IMPLEMENTASI EDUKASI KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT TB PARU DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN KELUARGA
Kata Kunci:
Edukasi Kesehatan, Tuberkulosis Paru, Kemandirian KeluargaAbstrak
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah kesehatan mayarakat di dunia termasuk Indonesia. Penyakit ini sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ lain di tubuh sehingga menimbulkan resiko kesehatan yang serius. Tuberkulosis saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di Indonesia maupun internasional sehingga menjadi salah satu tujuan pembangunan kesehatan berkelanjutan (SDGs). Indonesia termasuk negara terbesar kedua penyumbang kasus TB di dunia. Salah satu cara yang digunakan untuk mengendalikan dan mencegah penyebaran penyakit TB paru yaitu melalui upaya edukasi kesehatan. Tujuan implementasi yaitu untuk menggambarkan pengetahuan pasien TB paru sebelum dan setelah dilakukan edukasi tentang penyakit TB paru. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan subyek dua pasien TB paru di ruang poliklinik Paru RSUD Provinsi Papua Barat Kota Manokwari tahun 2026. Analisa data menggunakan analisis deskriptif dengan melihat tingkat pengetahuan sebelum dan setelah implementasi edukasi kesehatan. Sebelum implementasi tingkat pengetahuan subjek I dalam kategori kurang dengan skor 50% dan subjek II dalam kategori cukup dengan skor 70%. Setelah implementasi, tingkat pengetahuan tentang penyakit TB paru pada subjek I menjadi 80% dalam kategori baik dan subjek II menjadi 90% dalam kategori baik. Disarankan pasien TB paru dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh agar mencegah terjadinya penularan penyakit TB paru.
Referensi
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Dewanty, L.I., Haryanti T. & Kurniawan T.P. (2016). Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru di Puskesmas Nguntoronadi I Kabupaten Wonogiri. Jurnal Kesehatan, (1): 39-43
Dinkes Provinsi Papua Barat. (2017). Profil Kesehatan Provinsi Papua Barat 2017
Harahap, F. Z. (2021). Hubungan Diabetes Melitus Dengan Kejadian Tuberkulosis (Studi Case Control Di RSUD Kotapinang). Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Kemenkes RI. (2023). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI
Loihara, M. (2016). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TB pada Pasien Rawat Jalan. Jurnal Kesehatan Prima, 10(2): 1665-1671
Mariana, Dina, Chairani, Miftah. (2017). Kepadatan hunian, ventilasi dan pencahayaan terhadap kejadian TB paru di Wilayah Kerja Puskesmas Binanga Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat. Jurnal Poltekes Mamuju, 3(2), Hal. 75- 80.
Muaz, Fariz. (2014). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Tuberkulosis Paru Basil Tahan Asam Posiif di Puskesmas Wilayah Kecamatan Serang Kota Serang, FKUIN Syarif Hidayatullah.
Nurhanah., Amirudin, Ridwan., Abdullah, Tahir. (2020). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru pada masyarakat di Propinsi Sulawesi Selatan. Jurnal MKMI, 6(4), Hal. 204-209.
Rau MJ, Huldjannah NM. Analisis Risiko Kejadian Diabetes Melitus Pada Pasien TB di Wilayah Kerja Puskesmas Kamonji Kota Palu. J Promot Prev. 2021;3(2):1-13. doi:10.47650/jpp.v3i2.169.
Rizana, N., Tahlil, T., & Mulyadi. (2016). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Keluarga Dalam Pencegahan Penularan Tuberkulosis Paru. Jurnal Ilmu Keperawatan, 4(2), 56–69.
Sitorus, F. E., & Barus, D. T. (2018). Hubungan Koping Stres Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Tuberkulosis Paru. Jurnal Keperawatan & Fisioterapi (Jkf).
usneli, G. (2020). Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Perilaku Keluarga Penderita TB dalam Upaya Penanggulangan TB Dewasa di Kabupaten ABC Sumatera Barat. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 20(2), 630. https://doi.org/10.33087/jiubj.v2 0i2.1001.
WHO. (2023). Global Tuberkulosis Report 2023. Geneva: World Health Organization.









