PENINGKATAN KESADARAN BERAGAMA PADA REMAJA MELALUI WORKSHOP BINA MASYARAKAT DI DESA KONDANGJAJAR VILLAGE
Kata Kunci:
bina masyarakat, kesadaran beragama, remaja, workshopAbstrak
Minimnya motivasi untuk mengaji, rendahnya minat mengikuti sekolah diniyah, serta minimnya daya dukung orang tua dan tokoh masyarakat setempat dalam upaya penyadaran pentingnya sekolah diniyah dan magrib mengaji dikalangan remaja dan anak-anak menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sebagian besar orang tua yang ada di Desa Kondangjajar. Berdasarkan analisis situasi permasalahan yang muncul dilapangan kami merangkum tiga hal tersebut sebagai masalah utama yang dihadapi mitra. Kondisi inilah yang mendorong kami melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam rangka penguatan kesadaran beragama pada remaja di wilayah Desa Kondangjajar. Peningkatan kesadaran beragama pada remaja melalui workshop bina masyarakat di Desa Kondangjajar bertujuan untuk meningkatkan kerjasama yang kolaboratif antara keluarga, masyarakat dan pemerintah setempat dalam mewujudkan pentingnya kesadaran beragama pada remaja. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development). Metode ABCD merupakan metode yang memanfaatkan aset yang sudah tersedia dimasyarakat dan partisipasi masyarakat merupakan bidikan utama sehingga hasilnya masyarakat dapat menolong dirinya sendiri dari permasalahan. Hasil pengabdian menunjukan bahwa kegiatan workshop bina masyarakat dapat memberikan penguatan dan penyadaran masyarakat terkait pentingnya kesadaran beragama pada remaja. Lebih lanjut para peserta kegiatan berharap ada kegiatan tindaklanjut di lapangan yang bersifat jangka menengah guna memperkuat kerjasama yang kolaboratif antara keluarga, masyarakat dan pemerintah setempat dalam mewujudkan pentingnya kesadaran beragama pada remaja di Desa Kondangjajar.
Referensi
Adam, R.G. & Gullota, T. (1983). Adolescent Life Experiences. California: Brooks/Cole Publishing Company.
Brian J. Distelberg, et.al (2015). Multidimensional Family Resilience Assessment: The Individual, Family, and Community Resilience (IFCR) Profile. Routledge Taylor & Francis Group: Journal of Human Behavior in the Social Environment, 25:552–570, 2015. DOI: 10.1080/10911359.2014.988320.
J. Wentzel van Huyssteen (2005) Human Origins and Religious Awareness, Studia Theologica - Nordic Journal of Theology, 59:2, 104-128, DOI: 10.1080/00393380500339586.
Maksum, K. (2012). Konsep Dasar Pembinaan Kesadaran Beragama Dalam Dunia Pendidikan Anak. Literasi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol 3, No 1. DOI: http://dx.doi.org/10.21927/literasi.2012.3(1).31-42.
Nashori. (2000). Hubungan antara Kematangan Beragama dengan Kompetensi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Oktavia, E., & Mastanora, R. (2020). Manfaat Mengikuti Pengajian Rutin dalam Meningkatkan Kesadaran Beragama Masyarakat. Istinarah: Riset Keagamaan, Sosial dan Budaya. 1(2): halaman 74.
Robertson, Roland (ed.). (1972). Sociology of Religion. Victoria: Penguin Books Australia Ltd.
Selasi, Dini; Umam, Khoerul; Alfiyanti, Diah Rahmah Putriani. Pendekatan ABCD (Asset Based Communitty Development): Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga Melalui Pelatihan Pembuatan Telur Asin di Desa marikangen Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon. Etos: Jurnal Pengabdian Masyarakat, [S.l.], v. 3, n. 2, p. 176-188,
Sherkat, Darren E. (1998). ‘‘Counterculture or Continuity? Competing Influences on Baby Boomers’ Religious Orientations and Participation.’’ Social Forces, 76 :1087–1114.
Stinnet, Nick & John De Frain. (2003). Family Strengths. International Encyclopedia of Marriage and Family. encyclopedia.com. https://www.encyclopedia.com/reference/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/family-strengths [Retrieved 19 Oktober 2023).
Sudrajat, Ajat. (n.d). Pendidikan Agama Dan Kesadaran Beragama. Yogyakarta.
Sururin, (2004). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.









